Detail Riwayat
Koleksi: Ahmad
Tampilan Teks
1.5rem
1rem
Matan Hadits
ุญูุฏููุซูููุง ุนููููุงูู ุญูุฏููุซูููุง ุญูู
ููุงุฏู ุจููู ุณูููู
ูุฉู ุฃูุฎูุจูุฑูููุง ุนูููููู ุจููู ุฒูููุฏู ุนููู ุนูุฏูููู ุจููู ุซูุงุจูุชู ุนููู ุงููุจูุฑูุงุกู ุจููู ุนูุงุฒูุจู ููุงูููููููุง ู
ูุนู ุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููู ุณูููุฑู ููููุฒูููููุง ุจูุบูุฏููุฑู ุฎูู
ูู ูููููุฏููู ูููููุง ุงูุตููููุงุฉู ุฌูุงู
ูุนูุฉู ููููุณูุญู ููุฑูุณูููู ุงูููููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ุชูุญูุชู ุดูุฌูุฑูุชููููู ููุตููููู ุงูุธููููุฑู ููุฃูุฎูุฐู ุจูููุฏู ุนูููููู ุฑูุถููู ุงูููููู ุชูุนูุงููู ุนููููู ููููุงูู ุฃูููุณูุชูู
ู ุชูุนูููู
ูููู ุฃููููู ุฃูููููู ุจูุงููู
ูุคูู
ูููููู ู
ููู ุฃูููููุณูููู
ู ููุงูููุง ุจูููู ููุงูู ุฃูููุณูุชูู
ู ุชูุนูููู
ูููู ุฃููููู ุฃูููููู ุจูููููู ู
ูุคูู
ููู ู
ููู ููููุณููู ููุงูููุง ุจูููู ููุงูู ููุฃูุฎูุฐู ุจูููุฏู ุนูููููู ููููุงูู ู
ููู ููููุชู ู
ูููููุงูู ููุนูููููู ู
ูููููุงูู ุงููููููู
ูู ููุงูู ู
ููู ููุงููุงูู ููุนูุงุฏู ู
ููู ุนูุงุฏูุงููููุงูู ูููููููููู ุนูู
ูุฑู ุจูุนูุฏู ุฐููููู ููููุงูู ูููููุฆูุง ููุง ุงุจููู ุฃูุจูู ุทูุงููุจู ุฃูุตูุจูุญูุชู ููุฃูู
ูุณูููุชู ู
ูููููู ููููู ู
ูุคูู
ููู ููู
ูุคูู
ูููุฉู ููุงูู ุฃูุจูู ุนูุจูุฏ ุงูุฑููุญูู
ููู ุญูุฏููุซูููุง ููุฏูุจูุฉู ุจููู ุฎูุงููุฏู ุญูุฏููุซูููุง ุญูู
ููุงุฏู ุจููู ุณูููู
ูุฉู ุนููู ุนูููููู ุจููู ุฒูููุฏู ุนููู ุนูุฏูููู ุจููู ุซูุงุจูุชู ุนููู ุงููุจูุฑูุงุกู ุจููู ุนูุงุฒูุจู ุนููู ุงููููุจูููู ุตููููู ุงูููููู ุนููููููู ููุณููููู
ู ููุญููููู
Terjemahan
Telah menceritakan kepada kami Affan Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Ali bin Zaid dari Adi bin Tsabit dari Al Baraa` bin Azib ia berkata; Kami pernah bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dalam suatu perjalanan. Kemudian kami singgah di Ghadir Khum dan tak lama kemudian adzan shalat pun dikumandangkan. Sebagai tempat beliau, dibersihkanlah semak-semak yang berada di bawah dua batang pohon, baru kemudian beliau shalat Zhuhur. Setelah itu, beliau langsung memegang tangan Ali radliallahu 'anhu seraya bertanya: "Bukankah kalian telah mengetahui bahwa diriku lebih berhak terhadap kaum mukminin atas diri mereka sendiri?" para sahabat menjawab, "Benar." Beliau bertanya lagi, "Bukankah kalian telah mengetahui bahwa saya lebih berhak terhadap setiap mukmin atas dirinya sendiri?" para sahabat menjawab, "Benar." Kemudian beliau memegang erat tangan Ali dan bersabda: "Barang siapa yang menjadikan aku sebagai walinya, maka Ali juga merupakan wali baginya. Ya Allah, tolonglah orang-orang yang menolongnya, dan musuhilah orang yang memusuhinya." Setelah itu, Umar bin Khaththab Radliayallahu 'Anhu berkata, "Selamat bagimu wahai Ali, kamu telah menjadi wali bagi setiap mukmin dan mukminah." Abu Abdurrahman berkata, Telah menceritakan kepada kami Hudbah bin Khalid Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Adi bin Tsabit dari Al Barra` bin 'Azib dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam semisalnya.
Sedang membedah hadits...
Analisis Syarah Digital
> โ ๏ธ **Disclaimer:** Respons ini dihasilkan oleh AI hanya sebagai bahan pertimbangan, diskusi, atau wawasan tambahan. Jawaban ini bukan merupakan fatwa hukum dan tidak bisa dijadikan rujukan utama dalam beragama. Silakan berkonsultasi dengan ulama atau ahli agama yang kredibel untuk keputusan hukum yang mengikat.
---
### 1. Identitas & Takhrij
* **Perawi Utama:** Al-Bara' bin 'Azib ra.
* **Sumber Kitab:** *Musnad Ahmad bin Hanbal*, Jilid 30, Hal. 430, Hadis Nomor 18502 (Penomoran Alamiyah) atau No. 17749 dalam beberapa edisi lain.
* **Derajat Hadis:** **Sahih lighairihi** (Sahih karena didukung jalur lain).
* *Catatan Sanad:* Dalam sanad ini terdapat **Ali bin Zaid bin Judโan**, yang oleh mayoritas ulama hadis dinilai *dhaif* (lemah) karena hafalannya. Namun, substansi pernyataan *"Man kuntu mawlahu fa 'Aliyyun mawlahu"* (Siapa yang menjadikanku pemimpin/kekasihnya, maka Ali adalah pemimpin/kekasihnya) adalah **Mutawatir** (diriwayatkan oleh sangat banyak jalur) yang mencapai derajat sangat kuat/pasti menurut penelitian ulama seperti Imam adz-Dzahabi, Al-Albani, dan Al-Arna'ut.
---
### 2. Makna Lughawi (Bahasa)
* **Ghadir Khum:** Sebuah lembah/kolam (Ghadir) yang terletak di antara Mekah dan Madinah (dekat Juhfah).
* **Ash-Shalatu Jami'ah:** Seruan untuk berkumpul melakukan shalat atau mendengarkan pengumuman penting.
* **Mawla:** Memiliki banyak arti dalam bahasa Arab (Polisemi), antara lain: Pemimpin, kekasih, penolong, sekutu, atau tuan yang memerdekakan budak. Dalam konteks ini bermakna *Al-Wala'* (kedekatan, kecintaan, dan kesetiaan).
* **Awla:** Lebih utama atau lebih berhak.
---
### 3. Asbabul Wurud (Konteks)
Hadis ini terjadi sekembalinya Rasulullah ๏ทบ dari Haji Wada' (Haji Perpisahan). Konteks khususnya adalah adanya segelintir sahabat yang merasa tidak puas atau mengkritik tindakan Ali bin Abi Thalib ra. saat menjalankan tugas di Yaman (terkait pembagian rampasan perang). Rasulullah ๏ทบ ingin membersihkan nama Ali ra. dan menegaskan kedudukan istimewa beliau di hadapan umat agar tidak ada lagi kebencian terhadapnya.
---
### 4. Istinbath (Pelajaran & Hukum)
* **Keutamaan Ali bin Abi Thalib ra:** Hadis ini adalah salah satu dalil terkuat mengenai kemuliaan Ali ra. Beliau adalah sosok yang wajib dicintai oleh setiap mukmin.
* **Kewajiban Mencintai Ahlul Bait:** Mencintai keluarga Nabi (Ahlul Bait) adalah bagian dari konsekuensi mencintai Rasulullah ๏ทบ.
* **Konsep Al-Wala' (Loyalitas):** Rasulullah ๏ทบ mengaitkan loyalitas kepada dirinya dengan loyalitas kepada Ali. Barangsiapa memusuhi Ali, maka ia berada dalam posisi yang berbahaya secara spiritual.
* **Keadilan Sahabat:** Pengakuan Umar bin Khattab ra. di akhir hadis menunjukkan sportivitas dan rasa cinta antar sahabat Nabi. Hal ini membantah narasi bahwa ada perselisihan fundamental di antara para sahabat besar.
---
### 5. Relevansi Kontemporer
* **Persatuan Umat:** Hadis ini seharusnya menjadi titik temu untuk mencintai Ali bin Abi Thalib ra. tanpa melampaui batas (ekstrim) maupun meremehkannya (nashibi).
* **Kepemimpinan Berbasis Karakter:** Sosok pemimpin atau tokoh agama harus memiliki *Wala'* (kedekatan emosional dan spiritual) dengan pengikutnya, bukan sekadar relasi kekuasaan formal.
* **Menghargai Jasa Tokoh:** Sebagaimana Nabi membela Ali dari kritik yang tidak adil, kita diajarkan untuk menjaga kehormatan orang-orang saleh dan pemimpin yang berintegritas dari fitnah.
---
### 6. Sumber Rujukan
1. **Ahmad bin Hanbal**, *Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal* (dengan Ta'liq Syuaib Al-Arna'ut).
2. **Ibn Katsir**, *Al-Bidayah wa an-Nihayah* (Saat membahas peristiwa Ghadir Khum).
3. **Adz-Dzahabi**, *Siyar A'lam al-Nubala'* (Biografi Ali bin Abi Thalib).
4. **Al-Mubarakfuri**, *Tuhfatul Ahwadzi* (Penjelasan istilah Mawla).
5. **Nasiruddin Al-Albani**, *Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah* (Hadis No. 1750).